Fotography

_DSC3853kodrat-2kodrat-1_DSC3528_DSC3703kupu-kupuFo

Syirik

Syirik tidak hanya menyembah berhala, menyembah selain-Nya namun riya’ juga merupakan syirik. Dengan demikian marilah saudariku kita simak penjelasan di bawah ini.

Pembagian syirik ada berbagai macam tergantung dikelompokkan pada kelompok yang mana.

1. Syirik yang Terkait dengan Kekhususan Allah Ta’ala

a. Syirik di dalam Rububiyyah

Yaitu meyakini bahwa selain Allah mampu menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan atau mematikan dan lainnya dari sifat-sifat rububiyyah.

b. Syirik di dalam Uluhiyyah

Yaitu meyakini bahwa selain Allah bisa memberikan madharat atau manfaat, memberikan syafaat tanpa izin Allah, dan lainnya yang termasuk sifat-sifat uluhiyyah.

c. Syirik di dalam Asma’ wa Sifat

Yaitu seorang meyakini bahwa sebagian makhluk Allah memiliki sifat-sifat khusus yang Allah ta’alla miliki, seperti mengetahui perkara gaib, dan sifat-sifat lainnya yang merupakan kekhususan Rabb kita yang Maha Suci.

2. Syirik Menurut Kadarnya

a. Syirik Akbar (besar)

Yaitu syirik dalam keyakinan, dan hal ini mengeluarkan pelakunya dari agama islam.

– Syirik dalam berdoa

Adalah merendahkan diri kepada selain Allah dengan tujuan untuk istighatsah dan isti’anah kepada selain-Nya.

– Syirik dalam niat, kehendak dan maksud

Adalah manakala melakukan ibadah tersebut semata-mata ingin dilihat orang atau untuk kepentingan dunia semata.

– Syirik dalam keta’atan

Yaitu menjadikan sesuatu sebagai pembuat syariat selain Allah Subhanahu wa Ta’ala atau menjadikan sesuatu sebagai sekutu bagi Allah dalam menjalankan syariat dan ridho atas hukum tersebut.

– Syirik dalam kecintaan

Adalah mengambil makhluk sebagai tandingan bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Menyetarakan kecintaan makhluk dengan Allah.

b. Syirik Ashghar (kecil)

Yaitu riya’, hal ini tidak mengeluarkan pelakunya dari agama islam, akan tetapi pelakunya wajib untuk bertaubat. Akan tetapi bukan hanya riya’ saja yang termasuk syirik Ashgar. Riya’ termasuk Syirik Ashghar namun tidak semua Syirik Ashghar hanya berupa riya’.

c. Syirik Khafi (tersembunyi)

Yaitu seorang beramal dikarenakan keberadaan orang lain, hal ini pun termasuk riya’, dan hal ini tidak mengeluarkan pelakunya dari agama islam sebagaimana anda ketahui, namun pelakunya wajib bertaubat.

3. Syirik Menurut Letak Terjadinya

a. Syirik I’tiqodi

Syirik yang berupa keyakinan, misalnya meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menciptakan kita dan memberi rizki pada kita namun di sisi lain juga percaya bahwa dukun bisa mengubah takdir yang digariskan kepada kita. Hal ini termasuk Syirik Akbar yang mengeluarkan pelakunya dari agama islam, kita berlindung kepada Allah dari hal ini.

b. Syirik Amali

Yaitu setiap amalan fisik yang dinilai oleh syari’at islam sebagai sebuah kesyirikan, seperti menyembelih untuk selain Allah, dan bernazar untuk selain Allah dan lainnya.

c. Syirik Lafzhi

Yaitu setiap lafazh yang dihukumi oleh syari’at islam sebagai sebuah kesyirikan, seperti bersumpah dengan selain nama Allah, seperti perkataan sebagian orang, “Tidak ada bagiku kecuali Allah dan engkau”, dan “Aku bertawakal kepadamu”, “Kalau bukan karena Allah dan si fulan maka akan begini dan begitu”, dan lafazh-lafazh lainnya yang mengandung unsur kesyirikan.

Dengan mengetahui beberapa kategori syirik diatas dapat membantu kita untuk menghindarinya agar tidak terjatuh dalam kesyirikan dalam bentuk apapun dan cara bagaimana pun. Semoga kita semua bisa terhindar dari syirik tersebut di manapun dan kapan pun jua. Wallohu a’lam bishowab.

Maraji’:
Penjelasan Al-Qaul Al-Mufid fii Adillati At-Tauhid (terj)

Pertanian

Mengapa Saya Harus Masuk Agronomi dan Hortikultura

OLeh : Kodrat

Fakultas pertanian IPB merupakan salah satu 9 fakultas yang ada di IPB. Fakultas tersebut terdiri dari empat departemen yaitu :

1.      Ilmu tanah dan sumber daya lahan

2.      Agronomi dan Hortikultura

3.      Hama dan Proteksi Tanaman

4.      Arsitektur Lanskap

Agronomi dan Hortikultura merupakan  departemen yang bergerak dalam bidang budidaya tanaman pertanian secara tidak langsung menyangkut keberlangsungan hidup orang banyak. Awalnya saya tidak mengetahui secara pasti departemen ini dikarenakan saya belum banyak tahu tentang IPB khususnya Departemen Agronomi dna Hortikultura. Tetapi, setelah mencari di berbagai referensi saya menemukan banyak hal tentang departemen ini.

Sejak kecil merupakan anak dari keluarga petani, sehingga mendorong hati saya untuk ikut berpartisipasi dalam mengembangkan pertanian, walaupun bagi sebagian orang pekerjaan sebagai petani kurang mendapatkan minat. Menurut saya, semua pekerjaan penting aslkan bermanfaat. Selain itu juga, minat saya terhadap dunia perrtanian sangat tinggi, karena banyak hal yang akan saya dapatkan di situ.

Disamping itu, dunia kerja yang ditawarkan cukup menjanjikan. Sampai kiamat tiba tidak akan pernah kebutuhan makan manusia berkurang malah terus bertambah sesuai dengan deret Malthus. Departemen Agronomi dna Hortikultura mengusung misi besar terhadap keberlanjutan pertanian dan kehidupan manusia. Dengan jargon FEEDS THE WORLD kami pasti sanggup membuktikannya.

Masih banyak lagi hal-hal yang membuat saya memilih jurusan Agronomi dna Hortikultura, untuk lebih lengkapnya silahkan kunjungi alamat berikut :

1.      http://agrohort.ipb.ac.id/

2.      http://assyifahrefnaregar.wordpress.com/2008/12/20/agronomi-dan-hortikultura/

3.      http://kecubung6.com/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=197

4.      http://kecubung6.com/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=197

5.      http://petanidesa.wordpress.com/2007/02/03/memahami-pertanian-yang-berkelanjutan/

6.      http://www.spi.or.id/?page_id=549

The True Ways of Life

Sadarlah, Wahai orang yang tertipu!
Mengapa kamu masih riang bermain,
terlena dengan angan-angan.
Padahal ajal di depan matamu!
Bukankah kamu mengetahui
bahwa ambisi manusia adalah lautan luas tak bertepi.
Bahteranya adalah dunia.
Maka berhati-hatilah jangan sampai karam!
Yakinlah! Bahwa kematian pasti menjengukmu
bersama segala kepahitannya.
Ingatlah detik-detik itu, ketika kamu memberikan wasiat,
sedangkan anak-anak yang bakal menjadi yatim
Dan ibunya yang akan kehilangan suami tercinta
menangis pilu berlinang air mata.
Ia tenggelam dalam lautan kesedihan,
seraya memukul-mukul wajahnya.
Disaksikan para lelaki, padahal sebelumnya
ia adalah mutiara yang tersimpan rapi.
Kemudian setelah itu,
dibawalah kain kafan kepadamu.
Akhirnya! Diiringi isak tangis dan derai air mata,
Jasadmu dikebumikan

Kisah Seorang Pemuda Penduduk Irak

Abu Sulaiman ad-Daraani menceritakan bahwa ada seorang pemuda
penduduk Irak yang juga ahli ibadah berangkat menuju ke
Makkah bersama salah seorang temannya. Bila mereka singgah
di suatu tempat, maka pemuda itu akan shalat. Dan bila mereka
makan, maka dia tetap dalam keadaan shiyam. Selama perjalanan pergi dan pulang, temannya sangat sabar terhadapnya, dan ketika akan berpisah, sang teman bertanya kepadanya:

“Ceeritakanlah kepadaku akan hal yang membuatmu tergerak untuk melakukan semua yang telah aku lihat dari dirimu.”

Sang pemuda menjawab:
“Wahai saudaraku, dalam tidur aku pernah bermimpi melihat sebuah istana Jannah, batu-batunya terbuat dari emas dan perak, lengkap dengan teras yang terbuat dari batu zabarjad dan yaqut, sementara seorang bidadari dengan rambut tergerai berada di antara kedua teras tersebut. Dia mengenakan pakaian yang terbuat dari perak dengan suara lembutnya dia berucap:
“Bersungguh-sungguhlah kepada Allah dalam rangka mencariku. Demi
Allah, aku telah bersungguh-sungguh kepada Allah dalam mencarimu.”

“Maka demikianlah hal yang kamu lihat atas diriku dalam rangka mencarinya,“ tambah si pemuda kepada temannya.

Abu Sulaiman menyambung ceritanya, “Demikianlah yang dilakukan si pemuda untuk mencari seorang bidadari, lantas bagaimanakah keadaan seseorang yang mencari sesuatu yang lebih dari itu?”

Dikisahkan oleh Ibnu Abid Dunya dalam Al-Manaamat sebagaimana dinkil dalam Al-Huur al-Ain
wa Manaamatu ash-Shalihin (edisi Indonesia) oleh Syaikh Ihsan Hasanain hal. 178-179.

(Tajuk: Majalah As-Sunnah Edisi Khusus (04-05) Tahun XIV)

Dalam dunia binatang, aspek kebebasan dalam segala hal sangat menonjol. Namun kebebasan yang berlaku di dunia makhluk-makhluk (binatang) tersebut wajar-wajar saja. Anak menghamili induknya tentu bukan perkara tabu. Dan induk memangsa anaknya, juga bukan sebuah tindakan sadisme. Mengeluarkan suara dengan keras di sembarangan tempat pun bukan kesalahan. Karena sekali lagi, dalam dunia binatang tidak ada aturan yang mengikat, tidak ada norma yang membatasi dan syariat khusus yang digulirkan bagi mereka saat ‘bermualah’ dengan sesama.

Sudah tentu, ada perbedaan teramat besar antara dunia binatang dengan manusia. Manusia adalah makhluk beradab.

Secara khusus, Allâh Ta’ala menganugerahi manusia akal pikiran, hati dan jiwa yang lurus. Kemurahan Allâh Ta’ala berlanjut bagi mereka dengan mengutus rasul-rasul untuk memelihara mereka dari penyimpangan dan memperingatkan mereka dari kesesatan. Allâh Ta’ala tidak membiarkan mereka begitu saja tanpa bimbingan dan petunjuk dari-Nya. Dengan begitu, seluruh organ yang mereka miliki akan berfungsi sebagaimana mestinya untuk mendengar dan menjalankan perintah-perintah Allâh Ta’ala, Dzat Yang Menciptakannya.

Itulah orang-organ tubuh yang berfungsi secara hakiki, yakni dipergunakan sebesar-besarnya untuk ketaatan kepada-Nya, tidak dipergunakan untuk melanggar dan menentang aturan-Nya.

Tidak heran, bila kaum munafiqin disebut kaum yang bisu, tuli dan buta, karena tiga organ ini tidak mereka fungsikan sebagai sarana memperoleh hidayah-Nya dan ketaatan kepada-Nya. Allâh Ta’ala berfirman tentang mereka:

Qs al-Baqarah/2:17

Qs al-Baqarah/2:18

Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api,
maka setelah api itu menerangi sekelilingnya
Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka,
dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.
Mereka tuli, bisu, dan buta,
maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar).
(Qs al-Baqarah/2:17-18)

Demikianlah vonis bagi mereka di dunia ini karena tidak mengindahkan syariat dan petunjuk Allâh Ta’ala, kendatipun bibir mengakui sebagai kaum Muslimin. Ini akan berlaku bagi siapa saja yang memiliki karakter seperti mereka.

Dalam Islam, seseorang berhak untuk berbicara, berpendapat, maupun bertindak. Namun, itu semua tidak boleh bertabrakan dengan rambu-rambu syariat Islam, aturan Ilahi yang mengandung seluruh kemaslahatan yang dibutuhkan umat manusia. Jika tidak, kehancuranlah yang akan terjadi. Baik, kehancuran itu menimpa masyarakat, individu atau sebuah bangsa sekalipun. Sebab, seperti dikatakan oleh Imam asy-Syâthibi rahimahullah dalam al-Muwâfaqât, tujuan syariat Islam adalah mengentaskan orang mukallaf dari jerat hawa nafsu dan akhirnya taat hanya kepada Allâh Ta’ala dan rasul-Nya.

Ketika ada yang enggan mengikuti syariat atau dengan bahasa lain enggan diatur Islam, pada dasarnya ia telah merelakan dirinya terjerat belenggu hawa nafsu yang akan selalu menggiring kepada kejelekan. Ya, hawa nafsu hanya akan menyeret manusia kepada kegelapan demi kegelapan, tanpa ada cahayanya sama sekali.

Aneh memang, lari dari hukum (aturan) Allâh Ta’ala untuk menjadi korban hawa nafsu dengan maknanya yang luas. Berani menyuarakan kebatilan dengan gagah-berani karena dapat jaminan ekonomi, menghabiskan hari-hari dalam maksiat, merampas harta orang lain, menzhalimi manusia yang tidak bersalah, menghempaskan nyawa sesama tanpa alasan yang dibenarkan, menginjak-injak kehormatan orang, adalah sedikit contoh penjabaran dari jerat hawa nafsu terhadap manusia.

Secara khusus, apa yang disuarakan kalangan liberal sangat bertentangan dengan ajaran syariat, bahkan akal sehat pun tidak dapat menerimanya. Sadar atau tidak, mereka tengah menjajakan sampah dari bangsa Barat yang memang menginginkan kehancuran Islam melalui ghazwul fikr (perang pemikiran). Mereka tahu, akan lebih efektif bila penyuara gagasan mereka berasal dari kaum Muslimin. Untuk itu, umat sekarang memerlukan sekali keberadaan sosok seperti Khalifah Umar bin Khaththâb radhiyallâhu’anhu yang sangat tegas melawan pemikiran yang menyimpang. Dahulu, pukulan di kepala berhasil menyadarkan orang yang memiliki pemikiran aneh tentang ayat-ayat Allâh Ta’ala .

Semoga Allâh Ta’ala mengembalikan umat untuk mengikuti dan mengagungkan syariat-Nya yang mulia